SeLAmat DataNg Loph u fuLL

SeLAmat DataNg Loph u fuLL

Senin, 26 Desember 2011

RANGKUMAN ROMAN "Anak Perawan Di Sarang Penyamun"

Anak Perawan Di Sarang Penyamun
Oleh:  S. TAKDIR ALISJAHBANA

BAB 1
Medasing adalah kepala penyamun di Lahat dan tanah Pasemah. Dahulu, sebelum Medasing menjadi kepala penyamun, Medasing adalah penduduk dari sebuah desa, jauh sebelah selatan tanah pasemah, Saat itu dusun mereka diserang oleh sekawan penyamun, harta benda mereka diambil lalu dusun mereka dibakar, tak ada satu pun jua penduduk yang tertinggal, kecuali terdengar suara anak berteriak dari salah satu rumah, ternyata yang berteriak adalah Medasing kecil. Segeralah ia ditangkap oleh sekawan penyamun itu. Medasing kecil dibawa ke hutan, sejak itu pun ia menjadi bagian dari para penyamun itu.
            Sejak ayah angkatnya dan seorang teman yang lain mati di dalam perjuangan di kaki pegunungan, Medasing menjadi kepala perampok berlima itu dan menilik pada ilmu yang diperolehnya, seperti yang diceritakannya kepada teman-temannya, dan  kekukuhan badannya, telah patutlh ia menjadi kepala jabal-jabalan itu.
Semalam-malaman mereka berlima berjaga-jaga di tengah hutan, di lembah Endikat, hendak merampok saudagar Haji Sahak yang baru pulang dari Palembang menjual Lima puluh ekor kerbau, tetapi sia-sia belaka, kerena rupanya ia bermalam di dusun Bandar.
“Kalau malam ini sia-sia juga pekerjaan kita,” kata Medasing sambil membesar matanya. “Samad akan aku ajar, supaya kita jangan dipermainka saja. Kalau ia tak sanggup member kabar yang benar, lebih baiklah kita jangan bersangkut-paut dengan dia.”
Samad ialah mata-mata mereka di Lahat yang senantiasa membari kabar kepada mereka apabila ada orang yang banyak membawa uang dan harta akan lalu. Dan ia jugalah yang menjualkn sekalian perolehan mereka serta membelikan makanan dan keperluan yng lain.
BAB 2
Orang berlima itu sesungguhnyalah raja belukar, tak suatu apa juapun dari segala penduduk hutan yang luas ini berani menghalangi; sekaliannya lari, takut melihat mereka seperti gelap-gulita rimba itu lenyap sejurus oleh cahaya suluh.
Maka majulah pula mereka beberapa langkah, dan sekarang mereka berdiri di tepi tebing, seluruh pikiran mereka terarah kepada pekerjaan yang akan dilangsungkan kepada orang yang tidur lelep tiada beberapa jauh dari mereka.
Medasing teleh iba di atas pondok, diiringi oleh temannya berdua; ketika ia masuk, Haji Sahak terkejut mendengar bunyi orang melangkah ditangga yang berbuai-buai dan di lantai bamboo yang berderak-derak. Segera ia melompat terduduk, dan pada saat itu juga tiba di tangan kirinya mata tombak yamg tajam, berderis menembusi bajunya, mengupasi daging sampai ke tulang. Ia pun berteriak karena terperajat, tak tahu apa yang terjadi atas dirinya. Tamgan kirinya yang luka itu meraba kebawah bantal mengambil keris, tetapi saat itu juga tangan yang kena tombak itu pedih, tiada dapat digerakkan. Bertambah kuat ia berteriak sambil mencapaikan tangan kanannya ketempat senjata itu. Tetapi pada saat itu juga tiba pukulan yang kedua,lebih tepat, lebih dalam dari yang mula, yang rupanya terlangsung dalam kegopohan. Lembing yang tajam, yang tak tahu iba-kasihan itu masuk ke rusuk, terus mendalam dan sekonyong-konyong ia ditarik, diikuti oleh darah yang laksana disemburkan. Laki-laki yang telah duduk itu berguling kembali, tiada berdaya. Suaranya berteriak memblah telinga, diiringi oleh seru dan pekik dua orang perempuan minta tolong.
Di atas teratak segera Medasing dengan teman-temannya berdua berkuasa, sebab di sana hanya tidur Haji Sahak dengan isterinya dan seorang anaknya yang perawan. Haji Sahak tiada berdaya lagi kena lembing, sehingga tak adalah lagi yang berbahaya di atasitubagi mereka.
Ketika kepala penyaun itu menegakkan pelita yang terbalik hendak memasangnya, ketika ituberdiri perempuan isteri Haji Sahak mendekat suaminya.
Mukanya berkerut, menjadi buas, matanya bercahaya-cahaya penuh benci dan dendam dan sebagai harimau yang tiada berhari-hari makan menerpalah perempuan setengah umur itu kepada  Medasing, kepada ketiga penyamun yang lengkap dengan senjatanya itu, dengan tiada berkeris, tiada bersenjata.
Di sudut pondok begelung seorang gadis, seperti ulat yang hina yang keakutan, tiada bergerak,tiada tergerakkan diri oleh cemas yang tiada terkata-kata. Suaranya tiada terkeluarkan lagi melihat penyamun yang buas, yang tiada sedikit juapun menaruh iba-kasian itu.
Perjuangan di atas pondok telah selesai, kawan penyamun telah berkuasa sebenar-benarnya atas segalanya.
Sesungguhnya mudah dan lekassekalian pekerjaan mereka, tetapi dibawah perkelahian lebih berat, perlawanan lebih kuat dan di sana pun lebih banyak darah mengalir.
Sohan tersadai di tanah pada tiang pondok , tiada bergerak-gerak dan di dadanya tertanam sebilah keris yang tajam, sampai ke hulunya. Dan pada tempat keris itu masuk ked aging mengalir darah, tiada berhenti-henti, seakan-akan air yang keluar dari mata air yang hidup.
Tetapi pada saat Amat dengan segala tenaganya menusukkan tombaknya kepada musuhnya, ia merasa silu di belakangnya, tak tentu apa konon menyebabkan. Ia pun berbalik dan ketika itu kaku-ganjil terasa kepadanya di belakang dekat pangkallengannya,,, Dari belakang ia di tikam oleh anak pedati yang lain dengan kerisnya, bertubi-tubi, tetapi tak satu juapun yang berbahaya, yang dapat menewaskan dirinya ketika itu juga.
Demikianlah perkelahian antara penyamun dengan orang yang disamun, ketika sekonyong-konyong turun hujan lebat sebagai dicurahkan dari langit.

BAB 3
Dalam cahayanya yang bertambah lama bertambah besar, tampaklah Haji Sahak mandi darah; isterinya tiada bergerak-gerak dan anaknya yang perawan bergelung di sudut dekat pertemuan dinding menyembunyikan muka, menanti apa yang akan terjadi atas dirinya.
Segera panyamun bertiga itu mulai memeriksa, mengacau tempat tidur dan beberapa bungkusan. Saku dan pinggang Haji Sahak mereka raba dengan saksama, demikian juga leher dan lengan isterinya akan mengambil gelang dan kalung. Maka banyaklah yang mereka peroleh dan mereka pun mulai pula memecahkan peti kayu yang tiga buah didalam pondok itu. Di sana pun mereka dapat beberapa perhiasan yang mahal-mahal harganya. Dari salah sebuah peti itu mereka mengeluarkan sebuah peti kecil dari pada besi. Benda itu pun mereka ambil dan akan dibuka kelak di pondok, di tempat kediaman mereka.
Dalam memeriksa saudagar Haji Sahak laki-isteri dan barangbarangnya, lupa mereka, bahwa di sudut pondk itu ada bergelung seorang manusia perawan muda-remaja yang sedang cemas dan ketakutan.
Sementara itu penyamun kedua itu tiba di bawah dn segera mereka memasang suluh yang dibawanya. Sekarang mulailah mereka memeriksa segala gerobak, tetapi  diantara tiga itu hanya sebuah yang berisi barang, yang boleh jadi ada harganya, ialah sebuah peti kayu yang besar dan berat. Segera benda itu dikeluarkan mereka.
Sekarang mereka akan pulang.
Memandang perewan itu , Medasing raja penyamun yang tak tahu iba-kasian usahakan kasih-sayang itu, terhenti sejurus tak dapat maju melangkah, laksana orang yang kena pesona.
Tetapi,sekonyng-konyong dapat kehilangan akal, dalam gopohnya itu, bersinar sesuatu di kepalanya; ia akan melarikan gadis itu.
Parak siang, ketika di sebelah timur mulai keungu-unguan tibalah mereka di pondoknya. Medasing mengangkat perempuan yang dibawanya itu ke atas dan direbahkannya di lantai, perempuan yang sejak beberapa lamanya tiada insaf akan dirinya, yang seolah-olah berjalan dalam tidur itu, segera terlelap, karena letih-lesu lahir dan batin.
BAB 4
Beberapa lamanya ia menangis, tiba-tiba bangkit di hatinya hasrat hendak keluar, akan melepaskan dirinya dari lingkungannya yang kecil itu. Perlahan-lahan ia pun duduklah, melihat kekiri kekanan. Tampakkepadanya penyamun yang berempat itu tidur lelap; di hatinya bangkit suatu perasaan benci dan jijik.
Gadis itu sampailah di tepi anak air. Maka Lapanglah kembali rasa hatinya. Setelah habis ia membersihkan dirinya dengan pada air yang bening itu, pergilah ia duduk di atas sebuah batu yang besar.
Sekonyong-konyong ia pun berdiri dan dengan airmata berlinang-linang teruslah ia berjalan , tak tentu arahnya, menurutkan kakinya. Tak lama, datang Samad yang akan berjanji membawa ia pergi dari pada sekawan penyamun itu.

BAB 5
Sambil berjalan menuju ke pondok, Samad tidak henti-hentinya memikirkan maksud yang tumbul dihatinya, sejak mendengar cerita Sayu dan permintaannya akan pertolongan.
Dan sekarang ia kembali ke podok akan menjemput leruntungannya; apabila temannya berempat iu masih tidur akan diambilnya barang-barang rampasan yang terserak di kaki mereka. Pastilah akan besar hati Sayu melihat hak milik orang tuanya itu kembali.
Tiada berapa lama antaranya duduklah mereka bertiga dibawah pondok berdekat-dekatan di atas sepoting kayu menghadapi api, sambil bercakap-cakap; mereka masak nasi dan membakar ikan kering. Asap yang tebal membubung, berpencar melanggar lantai pondok dan sebagian dari pandannya masuk ked a;am, terus naik kea tap melalui celah-celah daun yang rimbun. Dalam pondok kabut rupanya dan Amat dan Tusin taklah bedanya dengan ikan disalai. Tetapi ketika itu tak ada tempat yang lain intuk menghidupkan api, sekeliling pondik basah belaka oleh hujan semalam.
Sekonyong-konyong dalam percakapan mereka bertiga itu berkatalah Sanip: “Rasanya Medasing, engkau ada membawa seorang perempuan. Kemanakah ia sekarang? Sejak tadi aku tiada melihatnya.”
Ia pun tegak sambil melihat dengan siasat kea rah anak sungai; sejurus antaranya ia pun menuju ke sana. Sambil berjalan tidak sesaat juapun pikirannya brpisah dari perawan itu, tetapi meski demikian tiada sedikit juapun ia insaf akan yang mengerakkannya mencari gadis itu.
Sebagai penyamun sejati yang tak pernah bergaul dengan manusia, tak pernah timbul di hatinya keinginan segala manusia menetapkan keturunan penyambung hidupnya.
Seketika ia tiba pada suatu tempat yang lapang yang dilindungi o;eh sebatang pohon yang besar. Semak dan belikar rupanya tak dapat tumbuh di sana, karena raksasa rimba itu tidak mmbiarkan tumbuhan yang lain mendekatinya; cahya matahari tak lulus ke bawah, ditahannya dengan payung daun-daun yang rapat.
Seketika itu juga mukanya menjadi terang karena pasti keyakinanya bahwa yang dicarin yaitu telah bersua. Perlahan-lahan ia maju berpirau, supaya dapat mendekati perempaun itu dari muka. Tetapi ketika telah nyata kelihatan kepadanya orang yang dicarinya itu terhentilah ia  sesaat seoalah-olah kakinya sekonyong-konyong tertahan, terpaku di tanah yang jarang di tumbuhi rumput itu.
Penyamun yang ganas, yang tak tahu iba-kasian itu sekali ini tiada membantah, tiada melawan mengakui kelebihan makhluk yang lemah di mukanya, meskipun seumur hidupnya belum pernah ia taklik, belum pernah gentar sekalipun menghadapi musuh apa sekalipun. Dalam kekuatannya itu lemah dirinya, dalm kekuasaannya ia takluk dari hati kecilnya. Oleh sesuatuyang gaib, yang telah menyelapi kalbunya dengan tiada diketahuinya.
Perempuan yang ringan itu ditariknya sehingga tertegak dan terus diseretnya terjajar-jajar melalui semak-semak, kea rah pondoknya.



BAB 6
Samad berjalan seorang diri di tengah hutan.
Mula-mula belumlh putus benar harapannya akan dapat melarikan sayu hari itu juga, sebab sangkanya Medasing takkan dapat mencari perwan itu. Tetapi ketika dari jauh kedengaran kepadanya Sayu berteriak minta tolong, segera diambilnya keruntung dengan barangperhiasan dan uang yang telah diuntukkan baginya, lalu ia pun bertolaklah.
Senja hari ia tiba di dusun Pulau Pinang. Dari jauh kelihatan kepadanya anaknya yang berdua itu bermain-main dihadapan rumah.
Samad tak pernah beramah-ramahan dengan anaknya. Dalam pemandangannyapun mereka kebetulan dilahirkan oleh perempuan yang kebetulan menjadi isterinya.

BAB 7
Di tengah negeri Pagar Alam ada sebuah rumah yang lebih indah dan kukuh dari rumah sekelilingnya. Dari jalan rumah itu disembunyikan oleh pohon pudding merah-kekuningan dan beberapa pohon sahu yang lebat buahnya.
Pada pagi itu duduk di sudut serambi itu bersandar pada dinding seoarang perempuan, bertelekung memegang sebuah tasbih.
Sesungguhnya nyi Haji Andun, isteri mendiang saudagar Haji Sahak sedang memikirkan sesuatu yang sulit.
Sekarang ia pun harus memikirkan betapa jalannya mencari uang pengganti harga kerbau orang yang menitipkan untuk di jual.
Hari makin tinggi jua, setelah habis makan nyi Haji Andun berkata kepada Sima (anak angkatnya) bahwa ia hendak pergi ke rumah Bedul, kakaknya, sebab ada suatu yang perlu.
Ketika nyi Haji Andun tiba di rumah kakaknya itu, Bedul baru handak pergi ke Ladang benar.
Beberapa lamanya ia termangu-mangu melihat nyi Haji Andun yang mengangkat dan menundukkan kepalanya sambil menangis tiada terhenti-henti.
Lamanya nyi Haji Andun menangis tersedan-sedan, dihadapi orang dua laki-isteri itu. Tetapi mereka tak jua dapat jalan yang lain untuk mengganti harga kerbau oaring itu.

BAB 8
Tangan Tusin yang patah dilempar anak pada pertempuran di lembah sungai Lematang lebih dari dua bulan yang telah lalu telah sembuh dan sekarang ia telah dapat hidup seperti biasa bersama-sama dengan temannya yang lain.
Sebaliknya Amat yang luka beberapa liang di belakangnya kena tikam, bertambah hebat penyakitnya.
Demikianlah pada suatu hari ketika penyamun-penyamun itu bangun didapati temannya itu tiada bernyawa lagi.
Maka habislah perhubungan penyamun-penyamun itu dengan Amat.
Ketika itu tinggallah sayu seorang dirinya di pondok, termenung sambil menjuntaikan kaki di tangga.
Matahari telah agak tinggi dan sinarnya ynag riang permai telah menembusi susunan daun yang tebal. Ketika itu terasa kepadanya, seolah-ilah kesunyianhutan yang sunyi itu sengaja di turunkan Allah baginya akan mengobati hatinya yang luka.
Setelah ditukarnya kainnya, diambilnyalah beberapa helai kain yang lain,dibelitkannya di badannya, sehingga menutup seluruh tubuhnya sebagai telekung. Ia pun sembahyang untuk pertama kali di hutan, di sarang penyamun itu.
Pada penghabisan sembahyang bermohonlah ia ke hadirat Allah serwa terpeliharalah ia hendaknya dari segala bencana dan malapetaka. Pun tak lupa ia minta kepada Tuhan yang kasih-sayang akan hambanya rahmat dan bahagia atas ayah-bundanya yang dicintainya.
Hari itu pertama kali ia menyediakan makanan bagi kawan penyamun dan dengan hal yang demikian mulailah ia menyelakan dirinya di penghidupan raja-raja rimba yang kukuh dan kuasa, buas dan ganas, yang sangat berlawanan dengan badannya yang lemah dan pekertinya yang lembut.

BAB 9
Mereka telah pindah ke pondok baru, yang terletak di bahagian lain rimba yang lebat itu.
Dalam berbulan-bulan itu makin lamamakin biasalah tersa kepadanya penghidupan di tengah raja-raja hutan dan kesunyian itu. Lambat laun sesungguhnya dengan tiada diketahuinya dianggapnya dirinya sebahagian dari kawan penyamun itu.
Demikain hari bertukar hari, minggu menjelang bulan dan kehidupan di pergaulan kecil yang ganjil ditengah rimba yang sunyi-sepi itu tak banyak berubah.

BAB 10
Samad telah lama tiada membujuk Sayu lagi. Beberapa lama sesudah pindah ke pondok baru itu ada sekali lagi ia bercakap dengan Sayu mengajak perawan itu lari dari pondok tempat penyamun itu. Tetapi ketika itu Sayu tak juga member jawab yang pasti kepadanya.
Pada suatu hari ia pergi pula ke Lahat. Di sana didengarnya berita, bahwa dua hari lagi akan berolak beberapa buah gerobak ke Pagar Alam membawa makanan, alat senjata dan keperluan yang lain. Gerobak itu akan diiringi oleh sepasukan serdadu, sebab sekalian yang dibawanya ialah untuk keperluan militer di daerah Pasemah.
Diceritakannya, bahwa keesokan harinya akan bertolak dari Lhat ke Pasemah yang kaya di rantau orang dan sekarang hendak pulang ke tempat lahirnya bersua dengan sanak saudaranya. Tentu ia banyak uang dan harta benda kaum keluarganya.
Karena mereka telah hanya berkawan tiga, maka Samad di ajak Medasing untuk pergi bersama-sama. Maka sekejap yang amat pendeknya cemaslah ia, tetapi oleh karena ia tak hendak memperlihatkan kecut hatinya dan oleh karenanya ketika itu ia tak dapat mencari alas an untuk mengelakkan diri berkatalah ia tegas-tepat: “Ya, tentu, aku akan mengikut pula.”

BAB 11
Matahari baru akan terpuruk di sebelah barat dan gelap baru terentang, sehingga belumlah rapat benar; disana-sini masih kelihatan bekas cahaya siang terkabur-kaburan.
Maka turunlah Medasing , Tusin, Sanip diiringi oleh Samad dari pondok di tengah hutan itu, lengkap dengan senjata masing-masing.
Sekali mereka berhenti di tepi air hendak mengeringkan peluh sambil mendinginkan badan  pada air yang sejuk. Setelah badan mereka segar kembali, teruslah mereka berjalan tiada bercakap-cakap sepatah juapun.
Tetapi ketika mereka hendak menyerang terantak itu terlangsung suatu yang selama Medasing menjadi penyamun tak pernah terjadi.
Ia terpijak sebuah ranting kayu yang besar, Seorang laki-laki yang kukuh yang tak tidur, menjaga teman-temannya, mengeluarkan kepalanya dari pondok seraya menyiapkan senjata apinya untuk memusnahkan binatang atau manusia yang telah berani mendekati tempat perhentian mereka.
Di tengah-tengah hutan yang sunyi senyap itu berdentum letusan, terdengar beberapa pal jauhnya, mengejutkan sekalian binatang rimba.
Mendengar bunyi senapan sekonyong-konyong seperti hendak memecahkan anak telinga, berpencarlah mereka berempat, masing-masing menurut arahnya sendiri dengan tak memikirkan temannya.
Ketika itu juga Tusin merasa sesuatu yang ganjil, yang seumur hidupnya belum pernah terasa kepadanya.
Tiba-tiba di muka tebing gelapkah pengelihatan dan ia pun berhentilah sejurus, meraba rusuknya. Darah mencoret keluar, tak tertahankan. Nyatalah luka dan keinsafan akan itu melemahkan badannya. Ia pun rebahlah dan terguling-guling ke bawah tebing yang gelap.
Sejak masa itu tak pernahlah mereka bertemu dengan Samad dan Tusin lagi.

BAB 12
Dalam pondok yang kecil itulah diam nyi Haji Andun, isteri mendiang Haji Sahak yang semasa hidupnya masuk orang yang terpandang di dusun Pagar Alam.
Tak ada lagi jaln baginya untuk menolong dirinya. Rumahnya telah dijaul untuk menggantikan uang harga tiga puluh ekor kerbau orang yang telah lenyap di tangannya, di rampas penyamun yang tak menaruh rasa ina-jasian. Harta-bendanya yang lain pun harusdilepaskannya, oleh karena uang harga rumah itu tak cukup uang mengganti sekaliannya itu.
Dia yang selama ini disegani dan dihormati orang, tak dapat hodup dari pada iba-kasian, dan sebab itu dimintanya Bedul menolong membuatkan baginya sebuah pondok jauh di ujung dusun, terpencil dari sekalian kerabat dan kenalannya.
Kesanalah ia pindah bersama-sama Sima, anak angkatnya yang amat setia kepadanya itu, tak usah dilihat dan di kasihani oleh siapa sekalipun.
Ibadatnya yang dulu tak pernah tinggal, makin terabaikan dan demikian pulalah lenyap tempat bergantungnya yang akhir sekali. Bertambah lama bertambah dalam ia terbenam dalam lumpur kenangan-kenangannya, yang mematikan segala harapannya, menyumbat pikirannya, melmahkan badannya dan menyesakkan dadanya.



BAB 13
Sunyi bertambah sunyi pondok para penyamun itu; mereka yang dulu berkawan lima, kini hanya tinggallah berdua lagi.
Pada suatu hari Medasing dan Sanip pergi berburu beberapa jauh, masing-masing menyandang tombak dan pada pinggang mereka terbuai-buai parang dalam sarung kayunya.
Sayu tinggal sendirian di pondok.
Pada suatu saat telah dekatlah medasing dan Sanip pada rusa itu. Kedua-duanya amat bergembira dan girang,rasa-rasa binatang liar itu telah di tangan mereka. Seorang pun tak memikirkan bahaya atau apa sekalipun. Tetapi sekonyong-konyong ketika Sanip mengacukan tombaknya, nampaklah kepadanya rusa itu lenyap ke bawah diantara semak yang rapat. Melihat itu sangatlah heran hatinya dan dicobanya menahan larinya, tetapi sia-sia, sebab oleh kecepatannya ia tak dapat berhenti lagi dan turut pula terjerumus ke dalam jurang yang dalam, dituruti oleh Medasing.
Mula-mula tak dapat di percaya akan apa yang terjadi atas diri temannya itu; Tombaknya yang tajam itu telah menembusi dadanya dan sementara itu tak putus-putus darah dari belakangnya, tempat tombak itu keluar dari badannya. Sanip tak bergerak-gerak.
Medasing telah mengulurkan tangan kirinya kepada temannya itu dan mencoba menolakkannya, supaya ia menghadap kepadanya, mula- mula usahannya sia-sia, tetapi setelah sedikit berbalikkah Sanip yang telah bernyawa lagi.
Demikianlah ia terus pulang ke pondoknya.





BAB 14
Telah lewat tengah hari ketika Medasing tiba di pondok. Sayu duduk di muka pintu di atas tangga, sehingga dari jauh tampak kepadanya laki-laki itu datang.
Tetapi sekonyong-konyong sampai ke telinganya sampai ditelinganya suatu bunyi yang ganjil, seolah-olah ada suatu yang jatuh.
Tetapi akhirnya insaflah ia, bahwa ia harus berusaha seleka-lekasnya menolong laki-laki itu. Sementara itu Medasing tak jua bergerak-gerak, rupanya ia pingsan. Ketika naik tangga tadi tak tentu lagi perasaannnya oleh letihnya dan oleh sikunya yang amat sakit, dan dengan tidak dapat di tahannya ia pun terhempaslah ke bawah. Tangannya yang patah terbanting dan terimpit oleh badannya dan oleh sakit yang tiada berhingga ia pun tiada kabarkan diri.
Demikianlah pada suatu hari di beranikannya hatinya bertanya kepada Medasing, dimana Sanit ditinggalkannya. Ketika itulah didengarnya cerita perburuan yang sial itu dari mula sampai akhirnya.
Perlahan-lahan turun malam dengan sayapnya yang kelabu lembayung meliputi seluruh hutan yang hijau itu menjadi hitam, tak tentu coraknya.

BAB 15
Ucapan sayu mengajak ia pulang ke dusun tempat pergaulan mansia, tak dapat dienyahkannya lagi dari pikirannya dan ketika di tengah hutan yang sepi itu berbunyi suara burung yang pertama memaklumkan siang, tetapi lenyap ragu dan sangsi dalam sanubarinya ia akan meninggalkan rimba yang bertahun-tahun menjadi tempat ke diamannya seperti segala binatang buas sdan penghuni rimba yang lain.
Demikian paraksiang Medasing meninggalkan tempat pembaringannya membangunkan sayu. Kepada perawan itu dikatakannya, bahwa mereka pagi-pagi itu juga akan berangkat ke Pagar Alam.
Nampaklah lagi kepada sayu jalan ke rumah tempat kediamannya sejak kecilnya. Telah lama setahun lamanya sekaliannya itu tak dilihatnya. Dari jauh elihatan kepadanya rumah ayah bundanya, lebih indah dan lebih kukuh dari rumah sekitarnya. Maka besarlah hatinya tiada terkata-kata dan langkahnya bertambah lama bertambah cepat, sehingga Medasing tertinggal jauh di belakangnya.
Belum dapat ia memikirkan betapa rumah itu mungkin menjadi rumah orang lian. Tetapi sesungguhnya tak ada sedikit juapun isinya yang menyerupaai isi ruamh ayah bundanya dahulu.
Terus, terus lagi tergesa-gesa ke pondok kecil, tempat bundanya yang telah seian lamanya tak dilihatnya. Jauh dibelakangnya berjalan Medasing, tak tentu perasaaan dan pikiran mengikuti perawan yang menduduk, didorong oleh sesuatu kekuatan gaib.   

BAB 16
Nyi Haji Andun tak dapat di tolong lagi, lahir dan batin ia hanya tinggal sisa mansia.
Beberapa hari yang akhir ini penyakit Nyi Haji Andun bertambah payah, batuknya makin mendalam sekali-sekali ia emludahkan dahak bercampur darah. Malam-malam badannya hangat dan ia pun mengingau, berkata-kata tak tentu. Tetapi meskipun demikian terutama sekalilah di sebutnya nama Sayu.
Tetapi dengung suaranya belum keluar melenyap dari pondok itu ketika dri bawah kedengaran bnyi langkah manusia tergopoh-gopoh dan sekejap yang amat pendeknya tangga kayu bergoyang membuai pondok kecil itu, dihadapan mereka menyembul kepala Sayu, kusut mangsai, sesak nafas. Sejurus antaranya Sayu telah naik ke atas pondok, maka ramailah bunyi seduh orang meratap bertangis-tangisan, sedih oleh kegirangan pertemuan yang penuh kesedihan.



BAB 17
Dan pada waktu sunyi senyap, ketika segala makhluk laksana menahan nafasnya, Medasing perlahan-lahan menjauhkan diri dari orang yang terseduh-seduh menagis amat sedihnya itu, turun e bawah menghilangkan badannya dalam gelap gulita.
Berpuluh kali ia telah menghadap orang memutus nyawa, luka berlumur darah, hancur remuk badannya, berteriak-teriak. Tetapi belum pernah sesesak itu dadanya, ketika ia melihat perempuan, kulit melekat pada daging it, menghembuskan nafasnya penghabisan, tak bergerak tak berbunyi lemah lembut, seperti kanak-kanak yang terlelap. Jauh di dalam hatiya menyayat dan membakar keinsyafan akan dosa yang tak ada bandingnya.

BAB 18
Dua tahun yang telah lalu Dua suami istri yang sangat dikasihi oleh rakyatnya itu naik haji anak beranak menyampaikan suruhan agama. Dua tahun lamanya tanah Pasemah seakan-akan sarang unggas yang tertinggal, dan Dua tahun pula lamanya rakyat Pasemah dengan hasrat menantikan pesirah mereka kembali. Sekarang waktu pesirah Karim dengan anak istrinya kembali ke tengah-tengah mereka, mereka hendak memperlihatkan cinta dan tetrima kasih mereka kepada kepala mereka yangs ekian lamanya meninggalkan mereka itu.
Tiba dihadapan balai dan rumah kecil berhentilah ke Tiga Puluh pedati itu. Dari dalam pedati itu keluar seorang laki-laki yang besar badannya, memakai jubah putih yang berenda hitam dan serba berbinting keputih-putihan, diikuti seorang perempuan yang berpakaian haji sampai tertutup mukanya. Itulah pesirah Karim suami istri. Dari pedati yang ke Empat disambut seorang anak laki-laki yang berumur Enam tahun dan seorang anak perempuan yang berumur Sepuluh tahun, kedua-duanya anak pesirah Karim yang mengikuti ayah bundanya pergi ke tanah suci.
Malam ini pertama kali pesirah Karim yang menjadi kepala anak buahnya dalam segala urusan dunia, menjadi pemuka mereka berbakti kepada allah. Pada sembahyang maghrib dan isya orang banyak meminta supaya ia menjadi imam.
Dan nampaklah oleh mata jiwanya diantara pohon-pohon itu gambar dirinya sendiri, bas dan ganas hendak menyerang, memukul membunuh. Berpuluh jiwa manusia telah dipunahkannya, dihentikannya keras dan kejam, pada permulaan, pada perttengahan, dan pada penghabisan perjalanannya di dunia ini. Tua dan muda ketika itu baginya tak ada bedanya asal dapat ia memuaskan nafsunya akan kekayaan dan harta. Maka kelihatanlah kepadanya sekalian temannya satu-persatu: Amat, Sohan, Tusin, Sanit, dan Samad. 
Dan ketaatan akan ibadat, sifat pengasih dan pemurah dan budi yang halus, yag meninggikan derajat ditengah manusia dan menetapkan tempat yang terpilih di akhirat yang esa, sekaliannya Sayulah yang membangkitkan jiwanya. Sebab lain daripada segala yang fana itu ada yang lebih berharga yang tiada turut terkubur dengan bungkusan hayat. 

BAB 19
Keesokan harinya kedua-duanya berangkat meninggalkan lembah Lemantang. Seorang kea rah Selatan dan seorang kearah Utara. Tetapi sebel;um berangkat itu mereka telah bersua sebagaai sahabat seperti Empat Lima belas tahun yang telah lalu.
Samad mencceritakan kemelaratan dan kesengsaraannya dalam pengembaraan sejak perceraian pada malam perampokan yang sial itu. Malang datang menimpa malam, segala yang dipengangnya tak menjadi dan sekalian usahanya tiada berhasil. Jauh perjalanannya dan banyak negeri yang telah dikunjunginya tetapi dimana-mana sial yang di temuinya.
Pesirah Karim mengajaknya membawa anak istrinya mengikutinya ke Pagar Alam. Di sana ia akan dapat hidup aman sentosa sampai hari tuanya. Tetapi Samd tetap menolak ajakan itu, dan ketika pesirah Karim bertanya kepadanya apa sebabnya, ia tak dapat, tak mungkin dapat menjawab.
Demikianlah mereka bertolak sama-sama meningglkan lembah Lemantang, masing-masing menuurut arahnya.
Tetapi seorang di mercu kebesaran dan kemuliaan hidup manusia diiringi oleh berpuluh-puluh orang, penuh kegirangan dan bahagia dan yang seorang lagi lemah letih, hina miskin dan sebatang kara menuju harapan yang tak dapat diharapan.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar