SeLAmat DataNg Loph u fuLL

SeLAmat DataNg Loph u fuLL

Kamis, 29 Desember 2011

RESUME “TOTTO-CHAN” - Gadis Cilik di Jendela”



“TOTTO-CHAN” – Gadis Cilik di Jendela” karangan Tetsuko Kuroyanagi.


Mama mengandeng Totto-Chan yang jarang sekali naik kereta, enggan mengulurkan karcisnya yang berharga. Ia memegangi karcisnya erat-erat.
Mama memandang Totto-Chan yang melompat – lompat sepanjang jalan sambil berbicara kepada dirinya sendiri.
Suara Mama terdengar putus asa ketika berkata, “Ayo cepat! Kita bisa terlambat. Kita tidak boleh membuat kepala sekolah menunggu. Jangan ceriwis. Perhatikan jalanmu dan berjalanlah dengan benar.”
Di depan mereka, di kejauhan, gerbang sebuah sekolah kecil mulai kelihatan.
Mama merasa khawatir karena Totto-Chan pernah dikeluarkan dari sekolah, meskipun dia baru mulai bersekolah. Sungguh aneh, baru kelas satu SD sudah dikeluarkan dari sekolah.
Jelas Mama harus melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah itu. Ini tidak adil bagi murid – murid yang lain. Mama harus mencari sekolah lain, sekolah yang bisa memahami dan mengajari puteri ciliknya untuk menyesuaikan diri dengan orang lain.
Totto-chan berhenti melangkah ketika melihat gerbang sekolah baru itu. Gerbang sekolahnya yang dulu terbuat dari pilar – pilar beton yang halus. Nama sekolah tertera di sana dengan huruf – huruf besar. Tapi gerbang sekolah baru ini hanya terdiri atas dua batang kayu yang tidak terlalu tinggi. Kedua batang itu masih di tumbuhi ranting dan daun.
Untuk ruang kelas, sekolah itu menggunakan enam gerbong kereta yang sudah tidak dipakai. Totto-chan merasa seperti sedang bermimpi. Bersekolah di gerbong kereta!
Deretan jendela gerbong – gerbong itu berkilauan ditempa sinar matahari pagi. Tapi sepasang mata gadis cilik berpipi merah jambu yang memandanginya dari balik semak – semak lebih bercahaya lagi.
Sesaat kemudian, Totto-chan menjerit kegirangan lalu berlari cepat ke arah “Sekolah kereta”. Dia menoleh ke belakang dan berteriak kepada Mama, “Ayo, Ma, cepat! Cepat! Ayo kita naik kereta yang tidak bergerak itu!”
Ingin rasannya Mama bilang, masalahnya sekarang bukanlah apakah Totto-chan suka sekolah itu atau tidak, tapi apakah Kepala Sekolah mau menerimanya. Mama melepaskan ujung rok Totto-chan yang dipeganginya, menggandeng tangannya, lalu berjalan ke kantor Kepala sekolah.
Kantor Kepala Sekolah tidak terletak di dalam gerbong, tapi terletak di sisi kanan sebuah bangunan berlantai satu.
Ketika Mama dan Totto-chan masuk, pria yang ada di kantor itu bangkit berdiri dari kursinya.
Sambil membungkuk memberi hormat, Totto-chan bertanya dengan penuh semangat, “Bapak ini apa, Kepala Sekolah atau Kepala Stasiun?”
Kepala Sekolah menarik kursi ke dekat Totto-chan lalu duduk berhadapan dengan gadis cilik itu. Ketika mereka sudah duduk nyaman, dia berkata, “Sekarang, ceritakan semua tentang dirimu. Ceritakan semua dan apa saja yang ingin kau katakan.”
Tidak pernah sebelum atau sejak saat itu ada orang dewasa yang mau mendengarkan Totto-chan sampai selama itu. Kepala Sekolah membuatnya merasa aman, hangat, dan senang. Dia ingin bersama Kepala Sekolah selama-lamanya.
Kepala Sekolah mengajak Totto-chan melihat tempat murid – murid biasa makan siang.
Setelah Kepala Sekolah berkata, “Sekarang kau murid sekolah ini,” Totto-chan tak sabar menunggu esok tiba. Belum pernah dia bersemangat menyambut hari baru seperti itu.
Warga paling tepat waktu di rumah itu Rocky, si anjing gembala Jerman, peliharan tersayang Totto-chan.
Rocky biasa berjalan menemani Totto-chan sampai gerbang sekolahnya yang lama, lalu pulang. Tentu saja hari ini dia juga ingin menemani Totto-chan. Tapi sayang sekali, kali ini Rocky tidak dapat mengantar Totto-chan karena sekolahnya yang berbeda.
Belum ada yang datang ketika Totto-chan sampai di pintu gerbong yang kemarin ditunjukkan Kepala Sekolah sebagai kelasnya. Totto-chan mengintip ke dalam. Jantungnya berdebar kencang sangking senangnya. Totto-chan sangat senang dan amat menyukai sekolah itu, hingga ia memutuskan untuk datang ke sekolah setiap hari dan takkan pernah berlibur.
Bersekolah di gerbong kereta sudah cukup aneh, tapi ternyata pengaturan tempat duduk di sekolah itu lebih aneh lagi. Di sekolah lain setiap anak diberi satu bangku tetap. Tapi di sini mereka boleh duduk sesuka hati, di mana saja, kapan saja.
Yang paling aneh dari sekolah ini adalah pelajarannya. Jadi belajar di sekolah ini pada umumnya bebas dan mandiri. Murid bebas berkonsultasi dengan guru kapan saja dia merasa perlu. Guru akan mendatangi murid jika diminta dan menjelaskan setiap hal sampai anak itu benar-benar mengerti. Kemudian mereka diberikan latihan – latihan lain untuk dikerjakan sendiri. Itulah belajar dalam arti sebenar – benarnya, dan itu berarti tak ada murid yang duduk menganggur dengan sikap tak peduli sementara guru sedang menjelaskan sesuatu.
Begitulah hari pertama Totto-chan di Tomoe di mulai.
Sekarang tiba waktunya untuk “sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan,” jam makan siang yang dinanti – nantikan Totto-chan dengan tak sabar.
Kepala Sekolah menggunakan ungkapan itu untuk menggambarkan makanan yang seimbang, jenis makanan yang dia harapkan dibawa murid – murid untuk makan siang sebagai pelengkap nasi. “Sesuatu dari laut” artinya makanan dari laut, seperti ikan dan tsukuda-ni (udang kecil atau sejenisnya yang direbus dengan kecap dan sake manis). Sementara “sesuatu dari peggunungan” berarti makanan dari daratan, seperti sayuran, daging sapi, daging babi, dan daging ayam.
Setelah mengerti apa yang dimaksud “sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan”, Totto-chan membuka makan siangnya yang terdiri atas telur orak – arik berwarna kuning cerah, buncis rebus, denbu cokelat, dan seiris daging ikan cod warna merah jambu. Bekal itu berwarna – warni seindah taman bunga.
Totto-chan agak gugup dihari pertama waktu makan siang, tapi acara itu asyik sekali. Sungguh menarik menebak – nebak makanan apa yang dibawa dari laut dan makanan apa yang dibawa dari pegunungan. Setelah menyanyi dengan keras, semua anak serentak mengucapkan “Itadakimasu” dan mulai menyantap “Sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan”.
Setelah makan siang Totto-chan bermain di halaman sekolah bersama anak – anak lain sebelum kembali ke kelas tempat guru mereka sedang menunggu. Totto-chan sudah berkenalan dan berkawan dengan semua anak di kelasnya. Ia merasa seperti sudah lama mengenal mereka. Dada Totto-chan serasa penuh akan kegembiraan.
Setiap hari di Tomoe Gakuen selalu penuh dengan kejutan bagi Totto-chan. Ia begitu bersemangat pergi ke sekolah hingga merasa fajar tidak pernah cukup cepat datang. Dan setiap kali ia pulang, ia akan menceritakan kepada Papa dan Mamanya dan juga Rocky, betapa asyiknya sekolahnya yang begitu banyak kejutan. Karena itu Mama sangat bersyukur ternyata Totto-chan sangat menikmati sekolah barunya.
Nama Totto-chan sebenarnya adalah Tetsuko, sebelum ia lahir, semua kawan Mama-Papa dan kerabat mereka yakin bayi yang akan lahir adalah laki – laki. Bayi itu adalah anak pertama Mama-Papa, jadi mereka percaya pada pendapat orang – orang itu. Mereka pun memutuskan menamai bayi mereka Toru. Ketika ternyata yang lahir bayi perempuan, mereka agak kecewa. Tapi mereka menyukai huruf Cina untuk Toru (yang berarti menembus, mengalun hingga jauh, jernih, dan menggema seperti suara) maka mereka menggunakan huruf itu untuk nama anak perempuan dengan memakai ucapan versi Cina Tetsu dan menambahkan akhiran ko yang biasa digunakan untuk nama anak perempuan.
Jadi semua orang memanggilnya Tetsuko-chan (Chan adalah bentuk akrab dari kata San yang ditambahkan setelah nama orang). Tapi bagi si gadis cilik, nama itu tidak terdengar seperti Tetsuko-chan. Jadi setiap kali seseorang bertanya siapa namanya, ia akan menjawab, “Totto-chan.” Ia bahkan mengira chan adalah bagian dari namanya.
“Malam ini akan datang satu gerbong baru, ” kata Miyo-chan waktu istirahat makan siang. Miyo-chan adalah puteri ketiga Kepala Sekolah. Ia sekelas dengan Totto-chan.
Sudah ada enam gerbong berderet sebagai kelas, tapi akan datang lagi satu gerbong lagi. Miyo-chan bilang, gerbong itu akan di jadikan perpustakaan. Semua murid senang sekali.
Ada hari lain yang sangat berkesan bagi Totto-chan. Hari itu untuk pertama kalinya ia berenang di kolam renang. Tanpa mengenakan apa – apa! Pelatih renangnya kakak Miyo-chan, putra Kepala Sekolah seorang olahragawan profesional. Ia bukan guru Tomoe tapi anggota tim renang sebuah universitas. Namanya sama dengan nama sekolah mereka: Tomoe. Tomoe-san mengenakan celana renang.
Setiap murid Tomoe punya satu pohon di halaman sekolah yang mereka anggap pohon milik mereka pribadi. Pohon Totto-chan tumbuh di pinggir halaman, dekat pagar di samping jalan setapak yang menuju Kuhonbutsu. Pohon itu besar dan dahannya licin, tapi jika memanjat dengan terampil, setelah kira – kira dua meter dari tanah, kita akan sampai di bagian pohon yang bercabang. Cabangnya itu sama nyamannya dengan tempat tidur gantung. Totto-chan sering naik ke pohon itu pada jam istirahat atau setelah sekolah bubar. Ia suka duduk di lekuk cabang itu, menatap langit, memandang kejauhan, atau melihat orang – orang lewat di bawah pohonnya. Anak – anak manganggap pohon “mereka” sebagai daerah kekuasaan. Karena itu, jika ingin memanjat pohon anak lain, kita harus meminta izin dengan sopan dan berkata, “Bolehkah aku masuk?”
Totto-chan berjalan sambil merenung. Rocky juga berjalan sambil merenung. Sesekali anjing itu mendongak memandang Totto-chan. Ia hanya punya satu arti: mereka sedang menuju gedung latihan tempat Papa berlatih okestra. Karena biasanya kalau tidak berlari sekencang – kencangannya atau berjalan berkeliling sambil mencari benda – benda yang pernah di jatuhkannya, Totto-chan akan menyeberangi kebun orang, menerobos kebawah pagar dari satu kebun ke kebun lainnya.
Liburan musim panas sudah berakhir dan hari piknik ke sumber air panas telah tiba. Bagi murid-murid Tomoe, acara itu sangat penting. Sebelum berangkat, murid-murid Tomoe berkumpul di sekolah pada hari yang sudah ditentukan. Fakta yang paling aneh adalah Totto-chan. Baru beberapa bulan sebelumnya ia selalu menggegerkan seisi sekolah karena berbicara dengan pemusik jalanan dari jendela ketika pelajaran berlangsung. Sejak hari pertama bersekolah di Tomeo, Tatto-chan selalu rajin belajar dan berusaha bersikap baik. Kalau saja guru dari sekolahnya yang lama melihat Totto-chan sekarang, duduk manis di dalam kereta api bersama anak-anak lain, mereka pasti bilang,”Pasti itu anak lain!”
Setelah liburan musim panas berakhir, semester kedua dimulai. Di Jepang, tahun ajaran sekolah mulai pada bulan April. Bukan hanya teman – teman sekelasnya, Totto-chan juga sudah berteman dengan semua murid dari kelas yang lebih besar, laki – laki maupun perempuan, berkat bermacam – macam acara yang mereka lakukan bersama selama liburan musim panas. Totto-chan pun semakin menyukai Tomoe Gakuen.
Kepala Sekolah selalu meminta para orang tua agar menyuruh anak – anak mereka mengenakan pakaian paling usang untuk bersekolah di Tomoe. Dia ingin semua murid mengenakan pakaian usang agar mereka tak perlu mengkhawatirkan pakaian mereka Akan kena lumpur atau robek. Menurutnya, sayang kalau anak – anak harus takut dimarahi akibat mengkotori pakaian mereka, atau ragu – ragu bergabung mengikuti suatu permainan karena cemas baju mereka akan robek.
Suatu pagi, ketika murid – murid sedang bermain – main di halaman sekolah, Kepala Sekolah berkata, “Ini teman baru kalian. Nama keluarganya Takahashi. Dia akan bergabung dengan anak – anak kelas satu.”
Anak – anak, termasuk Totto-chan, memandangi Takahashi. Anak itu melepas topinya, membungkuk menghormat, dan berkata malu – malu, “”Senang berkenalan dengan kalian.”
Hari olahraga di Tomoe diadakan setiap tahun pada tanggal tiga November. Kepala Sekolah memilih tanggal itu setelah berkali – kali melakukan riset. Dia menyimpulkan tanggal tiga November adalah hari di musim gugur yang paling jarang turun hujan. Pada hari olahraga yang pertama bagi Totto-chan dan teman – teman sekelasnya, cuaca cerah, persis seperti yang diharapkan Kepala Sekolah. Dekorasi rantai dan bintang – bintang dari kertas warna emas, yang dibuat anak – anak sehari sebelumnya, serta musik berirama mars yang diperdengarkan dari piringan hitam, membuat suasana semarak dan meriah. Sesuatu yang menakjubkan terjadi di hari olahraga. Takahashi, yang tangan dan kakinya paling pendek di sekolah dan tubuhnya paling kecil, memenangkan semua cabang olahraga. Sungguh sulit dipercaya. Dan hadiah dari semua jerih payah mereka adalah sayur – sayuran yang dapat mereka masak bersama keluarga.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Totto-chan menemukan uang. Waktu itu ia dalam perjalanan naik kereta dari sekolah ke rumah. Pada hari itu, ketika kereta miring di belokan tajam dan berderit seperti biasa, Totto-chan melihat sesuatu benda mirip uang tergeletak dekat kakinya. Ketika kereta kembali berjalan lurus, Totto-chan menunduk dan mengamatinya dengan cermat. Ternyata benar! Itu uang logam lima sen. Ia menduga seseorang pasti menjatuhkannya tanpa sengaja. Aku akan menyimpan uang ini di tempat rahasia dan membawanya ke sekolah besok. Aku akan meminta pendapat kawan – kawan. Akan aku tunjukkan uang ini pada mereka, karena di sekolah belum pernah ada yang menemukan uang jatuh.
Waktu itu Totto-chan punya dua ambisi besar Pertama, mengenakan celana olahraga yang menggembung, dan kedua mengepang rambutnya. Suatu hari Totto-chan meminta Mama mengepang rambutnya menjadi dua kepang kecil. Dengan rambut dikepang yang ujungnya diikat karet gelang dan dihiasi pita, ia merasa seperti anak sekolah yang sudah besar.
Liburan tahun baru hampir tiba. Tidak seperti ketika liburan musim panas, kali ini anak – anak tidak berkumpul di sekolah tapi menghabisi liburan bersama keluarga. Totto-chan akan pergi bermain ski bersama Mama dan Papa. Kawan Papa, Hideo Saito, pemain cello dan dirigen di okestra tempat Papa bermain, punya rumah peristirahatan yamg indah di Tanah Tinggi Shinga. Mereka biasa menginap di sana setiap musim dingin. Totto-chan mulai bermain ski sejak bersekolah di taman kanak – kanak.
Ketika kembali bersekolah setelah liburan musim dingin, anak – anak melihat sesuatu yang sangat menakjubkan. “Ini perpustakaan kalian,” kata Kepala Sekolah. “Semua buku ini boleh dibaca siapa saja. Kalian tidak perlu cemas. Tidak ada buku yang hanya khusus untuk kelas tertentu atau yang seperti itu. Kalian boleh datang ke sini kapan saja.” Mereka berteriak – teriak kegirangan melihatnya. Di seberang deretan kelas ada satu gerbong baru, di samping petak bunga, dekat aula. Ketika mereka berlibur, gerbong itu telah ditata menjadi perpustakaan! Ryo-chan, tukang kebun sekolah yang di hormati semua anak dan bisa melakukan pekerjaan apa saja, rupanya sudah bekerja sangat keras. Dia memasang berderet – deret rak buku di dalam gerbong, dan rak – rak itu sekarang penuh buku, bermacam – macam ukuran dan warnanya. Meja dan kursi tersedia, tempat anak – anak duduk dan membaca.
Hari itu tepat setahun sejak pagi hari ketika untuk pertama kalinya Totto-chan datang ke Tomoe Gakuen bersama Mama. Ia terheran – heran melihat gerbang tumbuh dari dalam tanah, dan takjub melihat deretan kelas di dalam gerbong kereta sampai melompat – lompat kegirangan. Totto-chan yakin sekali Sosaku Kobayasi, Kepala Sekolah, adalah kawannya. Sekarang Totto-chan dan kawan – kawan sekelasnya gembira karena status baru mereka sebagai anak kelas dua. Mereka menonton anak – anak baru di kelas satu memandang sekeliling mereka dengan penuh rasa ingin tahu, persis seperti Totto-chan dan kawan – kawan sekelasnya dulu, setahun yang lalu. Sekarang Totto-chan murid kelas dua, penuh harapan menyambut kejutan dan kegembiraan yang menantinya di tahun ajaran baru.
“Kau benar – benar anak baik, kau tahu itu, kan ?”
Itu yang selalu dikatakan Kepala Sekolah setiap kali dia berpapasan dengan Totto-chan. Sebenarnya dalam banyak hal Totto-chan anak baik, ia baik hati kepada siapa saja, khususnya pada kawan – kawannya yang punya cacat tubuh. Ia selalu membela mereka. Jika ada anak sekolah lain yang mengatai kawan – kawannya yang cacat, ia berani berkelahi dengan anak jahat itu, walaupun akhirnya ia menangis. Totto-chan bersedia melakukan apa saja untuk merawat binatang terluka yang ditemukannya. Tapi guru – gurunya juga sering kaget mendapati Totto-chan tertimpa berbagai masalah karena ingin memuaskan rasa ingin tahunya begitu menemukan sesuatu yang tak biasa.
Sekarang Totto-chan telah kelas tiga, untuk pertama kali dalam hidupnya, Totto-chan berkunjung ke rumah sakit yang merawat serdadu – sedadu yang terluka. Ia pergi bersama kira – kira tiga puluh anak dari berbagai sekolah dasar, anak – anak yang tidak di kenalnya. Itu bagian dari kegiatan yang dirancang dan diorganisir secara nasional untuk siswa sekolah dasar. Biasanya setiap sekolah mengirimkan dua atau tiga anak, tapi sekolah yang kecil seperti tomoe hanya mengirim satu. Kelompok itu akan dipimpin oleh guru dari salah satu sekolah. Totto-chan mewakili Tomoe.
Ada murid baru di Tomoe. Tubuhnya terlalu jangkung dan tegap untuk anak laki – laki seusianya. Pagi itu anak – anak berkumpul di halaman sekolah. Kepala Sekolah memperkenalkan murid baru tersebut. “Ini Miyazaki. Dia lahir dan dibesarkan di Amerika, jadi dia tidak lancar berbahasa Jepang. Itu sebabnya dia bersekolah di Tomoe, agar bisa lebih mudah belajar sesuai kemampuannya.” Miyazaki dan anak – anak Tomoe segera bersahabat. Setiap hari dia membawa bermacam – macam buku ke Tomoe dan membacakan buku – buku itu untuk kawan – kawannya setelah makan siang.
Hari itu hari pertama masuk sekolah setelah liburan musim semi. Mr. Kobayashi berdiri di depan anak – anak yang berkumpul di halaman sekolah. Seperti biasa, tangannya dimasukkan kedalam saku. Tapi kali ini dia tidak mengatakan apa – apa sampai beberapa lama. Kemudian dia mengeluarkan tangan dari saku dan memandang anak – anak. Kelihatannya dia baru saja menangis. “Yasuaki-chan meninggal,” katanya pelan. “Kita semua akan menghadiri pemakamannya hari ini.” Kemudian dia melanjutkan, “Aku tahu, kalian semua menyukai Yasuaki-chan. Sungguh sayang. Aku merasa sedih sekali.” Dia hanya bisa bicara sampai di situ. Upacara pemakaman Yasuaki-chan diadakan di gereja yang terletak di seberang Denenchofu, tempat tinggalnya. Baru kali itu Totto-chan datang keupacara pemakaman. Dan kini ia bisa merasakan betapa sedihnya suasana, tak seorang pun bersuara. Yasuaki-chan berbaring di dalam peti dengan mata terpejam, dikelilingi bunga – bunga. Meskipun sudah meninggal, wajahnya tampak ramah dan cerdas seperti biasa. Totto-chan berlutut lalu meletakan bunga di tangan kawannya. Sampai lama, para murid Tomoe masih merasa sedih. Mereka selalu ingat Yasuaki-chan, lebih – lebih di pagi hari, ketika jam pelajaran akan dimulai. Butuh waktu lama bagi anak – anak untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa Yasuaki-chan bukan hanya terlambat, tapi dia takkan pernah datang lagi. Sebelum mereka sadari, perang dan segala kengeriannya telah mulai terasa dalam kehidupan Totto-chan dan keluarganya. Setiap hari, para pria dan pemuda di lingkungan tempat tinggalnya dikirim pergi. Mereka melambai – lambaikan bendera dan berseru – seru “Banzai!”
Setelah makan siang, sesudah para murid menyingkirkan kursi dan meja yang tadinya ditata membentuk lingkaran, Aula tampak cukup luas. Totto-chan berbincang – bincang dengan Kepala Sekolah, ia mengatakan saat dewasa ia akan mengajar di sekolah Tomoe, “Kalau aku jadi guru....,” ia menggumam. Inilah hal – hal yang di bayangkan Totto-chan: tidak banyak belajar, perbanyak Hari Olahraga, acara masak bersama, berkemah, dan jalan – jalan!

Banyak sedadu gugur, makan sulit didapat, dan semua orang hidup dalam ketakutan, tapi musim panas datang seperti biasa. Dan matahari bersinar menyinari bangsa – bangsa yang menang maupun yang kalah. Tidak ada lagi acara berkemah di Tomoe dan tak ada lagi piknik – piknik menyenangkan ke sumber air panas. Kelihatannya anak – anak takkan bisa lagi menikmati liburan musim panas seasyik liburan ketika itu. Sekarang setelah liburan musim panas selesai, Totto-chan diantarkan kembali ke Tokyo. Seperti biasa, begitu sampai di rumah, Totto-chan langsung mencari Rocky. Tapi kali ini ia tak bisa menemukannya. Anjing itu tak ada di dalam rumah atau di kebun. Totto-chan mulai cemas karena biasanya selalu keluar menyambutnya jauh sebelum ia sampai di rumah. Sekarang keadaan menjadi jelas bagi Totto-chan. Hingga saat itu, tak peduli berapa lama Totto-chan pergi, Rocky tak pernah pergi jauh – jauh dari rumah. Dia selalu tahu Totto-chan akan pulang. Rocky takkan pernah pergi tanpa pamit dulu padaku, katanya pada diri sendiri dengan yakin. Sambil menggenggam bulu anjing gembala Jerman di tangannya, Totto-chan menangis dan menangis. Airmata dan isakkanya seolah tidak bisa berhenti. Mula – mula Yasuaki-chan dan sekarang Rocky. Totto-chan kehilangan seorang kawan lagi.
Ryo-chan, tukang kebun di Tomoe yang sangat disayangi anak – anak, akhirnya dipanggil ke garis depan. Ryo-chan pergi dengan naik kereta Toyoko. Kepergiannya bertepatan dengan kedatangan pesawat – pesawat Amerika. Pesawat – pesawat itu akhirnya muncul di langit Tokyo dan mulai menjatuhkan bom setiap hari.
Tomoe terbakar. Kejadiannya di malam hari. Miyo-chan, dan Misa-chan, kakaknya, serta ibu mereka yang tinggal di rumah yang bergandengan dengan sekolah berlari ke ladang Tomoe di dekat kolam di Kuil Kuhonbutsu. Mereka selamat. Banyak bom yang dijatuhkan pesawat B29 menimpa gerbong – gerbong kereta api yang berfungsi sebagai ruang kelas. Sekolah yang merupakan impian Kepala Sekolah terbakar habis. Sekolah itu roboh bersamaan dengan bunyi – bunyi yang mengerikan, bukan iringan suara –suara yang amat di sayanginya, suara tawa dan nyanyian anak – anak. Api, yang tak mungkin dipadamkan, meratakannya dengan tanah. Api berkobar dimana – mana di seluruh Jiyugaoka. Kecintaan Mr. Kobayashi terhadap anak – anak dan ketulusannya dalam mengajar jauh lebih kuat daripada api yang sekarang membakar sekolahnya. Kepala Sekolah tetap riang.
Totto-chan berbaring dalam kereta pengungsian yang penuh sesak, terimpit di antara orang – orang dewasa. Kereta bergerak menuju timur laut. Ketika dia memandang keluar jendela ke kegelapan di luar, dia ingat kata – kata perpisahan yang diucapkan Kepala Sekolah, “Kita akan bertemu lagi!” dan kata – kata itu yang selalu diucapkan kepadanya, “Kau itu anak yang benar – benar baik, kau tahu itu, kan?” Dia tak ingin melupakan kata – kata itu. Sambil merasa yakin dia akan segera bertemu lagi dengan Mr. Kobayashi, Totto-chan akhirnya tertidur.
Kereta merayap dalam gelap, membawa para penumpang yang diliputi kecemasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar